SMAK Frateran Malang

Non Scholae Sed Vitae Discimus

SMAK Frateran Malang - Non Scholae Sed Vitae Discimus

“SEJENAK LEPAS DARI KERIUHAN”

“SEJENAK LEPAS DARI KERIUHAN”

REKOLEKSI ALA SMAK FRATERAN MALANG

 

BINA MENTAL LEWAT REKOLEKSI

Rekoleksi merupakan salah satu kegiatan pembinaan mental di SMA Katolik Frateran Malang.  Kegiatan yang diadakan diluar sekolah ini diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Selama mengikuti kegiatan, peserta didik wajib nginap dirumah pembinaan yang sudah disiapkan, dan selama beberapa hari mereka hidup dan tinggal bersama dengan teman – teman, mengalami situasi yang berbeda dari biasanya. Ditempat tersebut mereka bisa saling berbagi cinta dan ceritera lewat pelbagai aktivitas yang mereka jalani bersama; konferensi, diskusi, sharing pengalaman, makan bersama, doa bersama, dsb.

Tahun ini (2014) rekoleksi diadakan dirumah pembinaan Wisma Shanti Lawang, kota Malang. Kegiatan yang berlangsung selama sepekan ini (Senin, 03 s.d. Sabtu, 08/02/2014) mengusung tema “Menjadi Remaja Unggul Berkarakter Positif”. Tema ini menjadi tema sentral kegiatan karena tema ini  bersentuhan langsung dengan peserta didik. Peserta didik diantar untuk mengenal dan menjadi dirinya sendiri, menjadi pribadi yang berkarakter unggul sebagaimana visi SMAK Frateran Malang yang mengedepankan pembentukan mental dan karakter peserta didik, mewujudkan pribadi peserta didik yang unggul secara spiritual, unggul secara intelektual dan unggul secara kepribadian.

Maka sasaran yang mau dicapai dari kegiatan rekoleksi ini adalah demi terbina dan terbentuknya peserta didik yang mampu mawas diri, mampu membaharui dirinya, mampu menemukan dan mengembangkan bakat, minat dan talenta yang dimiliki, bersikap proaktif dalam membangun perubahan, dan setiap pribadi peserta didik harus mampu bertanggung jawab terhadap dirinya, terhadap tugas dan tanggung jawab yang dijalaninya setiap hari.

Selain itu, melalui kegiatan ini pula peserta didik diharapkan untuk bisa menjadi agen perubahan dimasa depan, bisa mengubah kelemahan menjadi kekuatan, dan mampu mengenal diri dan lingkungannya, sehingga hidupnya boleh menjadi tanda kehadiran Allah. Dengan demikian, masing – masing individu bisa menghadirkan pribadi yang berkualitas, pribadi yang berkarakter positif.

 

MENIMBA KEKUATAN DALAM KEHENINGAN

Bagi sebagian orang masuk dalam keheningan batin lewat meditasi merupakan aktivitas yang tidak biasa, membosankan, bahkan terkesan hanya sekedar menghabiskan waktu. Apalagi kalau waktu yang disediakan untuk itu lebih dari 30 menit. Bagi yang tidak biasa, rasa bosan dan jenuh pasti akan selalu datang menghantui.

Tidak demikian dengan apa yang dilakukan oleh peserta didik SMA Katolik Frateran Malang ketika mereka masuk dalam keheningan untuk menggali dan merenungkan tentang dirinya, tentang lingkungan sekitarnya, dan tentang pengalaman hidupnya. Mereka begitu khusuk mengikuti kegiatan ini dari awal sampai akhir. Dalam keheningan mereka dituntun untuk sungguh – sungguh masuk kedalam diri mereka sendiri dan menimba kekuatan dari keheningan itu. Melalui para pendamping, mereka diajak untuk mengalami sendiri bagaimana rasanya masuk dalam suasana hening tanpa kata sembari merefleksikan segala sesuatu yang pernah mereka alami.

Novi, salah satu peserta yang mengikuti kegiatan ini sungguh – sungguh merasakan hal itu. Dalam diam dan dalam keheningan dia menimba suasana baru dan pengalaman baru tentang dirinya, tentang relasinya dengan orang lain, dan terutama tentang relasinya dengan Tuhan Sang Pencipta. Ia menyadari bahwa dalam keheningan itu hatinya disapa dan disentuh oleh sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ia bergumul dan bergulat dengan dirinya sendiri. Bagi Novi, masuk dalam keheningan lewat kegiatan meditasi merupakan pengalaman indah penuh makna, pengalaman pertama berjumpa dan bergumul dengan dirinya sendiri.

“Saya merasa ada sesuatu yang berbeda yang menyentuh hati dan pikiran saya pada saat itu. Melalui pendamping, saya dituntun untuk sungguh – sungguh masuk kedalam diri saya sendiri, menyadari kekurangan dan kelebihan saya”, ujarnya.

Sementara itu, Bernadette Tyas,S.Pd, salah seorang guru yang begitu setia mendampingi peserta didik selama kegiatan ini berlangsung mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh anak didiknya sungguh – sungguh membuatnya terkagum – kagum. Ia terkesan dengan keseriusan dan kesungguhan mereka dalam mengikuti seluruh proses bimbingan, pendampingan dan pembinaan yang diberikan.

“Mereka sangat disiplin dalam mengikuti seluruh proses pembinaan dan pendampingan yang diberikan. Semoga setelah kegiatan ini mereka semakin matang dalam bersikap dan bertingkah laku, dan menjadikan rekoleksi sebagai salah satu sarana yang ampuh dalam membangun spirit baru, terutama dalam mewujudkan pribadi yang tangguh dan unggul dalam banyak aspek kehidupan manusia”, katanya.

 

SHARING PENGALAMAN

Salah satu momentum yang paling disukai oleh peserta rekoleksi selama beberapa hari berada ditempat rekoleksi adalah ketika mereka masuk dalam kelompok – kelompok kecil untuk mensharingkan pengalaman mereka masing – masing. Pengalaman yang disharingkan adalah pengalaman – pengalaman pribadi setelah mereka merenung dan merefleksikan beberapa materi yang diberikan oleh pendamping. Melalui kegiatan ini mereka bisa saling berbagi ceritera, berbagi pengalaman, berbagi cinta satu sama lain.

Hal yang menarik dari sesion sharing ini adalah sikap mereka dalam merespons setiap pengalaman yang mereka sharingkan. Mereka saling mendengarkan satu sama lain, saling mendukung dan menguatkan. Apalagi kalau yang disharingkan tentang pengalaman suka dan duka, tentang pengalaman jatuh dan bangun dalam menjalani hidup. Waktu yang disediakan terasa sangat singkat karena hampir semua peserta ingin berbagi ceritera, Ingin mendengarkan lebih banyak lagi sharing unik dari teman – teman lain.

Keterbukaan dalam mengungkapkan segala sesuatu yang mereka gulati sungguh nampak dalam isi sharing mereka. Mereka mensharingkan segala sesuatu apa adanya, yaitu tentang pengalaman real yang mereka alami dan hadapi, entah di sekolah, keluarga, maupun dalam relasi mereka dengan masyarakat luas.

Bila diantara mereka ada yang terlampau sedih dan menangis oleh karena pengalaman yang disharingkan, peserta lain biasanya memberi kekuatan dan peneguhan. Ada yang memberi motivasi untuk tetap semangat dan bangkit bila pengalaman itu menyakitkan dan menyedihkan, tetapi ada pula yang merespon sharing tersebut dengan doa. Dan kegiatan sharing ini selalu mereka awali dan akhiri dengan doa bersama

(Peliput, Fr.M. Patricius, BHK)

 

SMAK FRATERAN MALANG GELAR PELBAGAI LOMBA

Dalam rangka HUT SMAK Frateran Malang yang ke-25 dan HUT Yayasan Mardi Wiyata ke-55, keluarga besar SMAK Frateran Malang menggelar pelbagai lomba dan kegiatan yang dimulai pada Senin, 11/02 s.d. Kamis, 22/08/2013. Beberapa diantaranya adalah lomba Futsal tingkat SMP sekota Malang, Frateran Band Festival dan Fashion Show, Go Green Rally, Bakti Sosial, Game Kebersamaan, Jalan Sehat, Bazaar, Door Prize, Gebyar Seni, Siraman Rohani, dan ditutup dengan Misa Akbar Frateran yang berlangsung pada Jumaat, 23/08/2013.

Bertempat di SMAK Frateran Malang, kegiatan dan lomba berlangsung meriah karena selain diikuti oleh para guru, pegawai, karyawan/i dan siswa/i SMAK Frateran, tetapi juga diikuti oleh siswa/i lintas lembaga sekota Malang, para guru, pegawai, dan karyawan/i Yayasan Mardi Wiyata sub perwakilan Malang, sub perwakilan Kediri dan sub perwakilan Surabaya. Selain itu, hadir pula Pimpinan Umum Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, Fr. M. Venansius, BHK, Provinsial Frater Bunda Hati Kudus Propinsi Indonesia, Fr. M. Dominikus, BHK, dan para frater BHK dari beberapa komunitas di wilayah Jawa Timur.

Adapun tujuan diselenggarakannya pelbagai lomba dan kegiatan ini selain dalam rangka mewujudkan rasa syukur 25 tahun perjalanan SMAK Frateran Malang dan 55 tahun Yayasan Mardi Wiyata berkiprah di dunia pendidikan, tetapi juga bertujuan mengaktualisasikan berbagai kreatifitas seni dan edukatif pendidik dan peserta didik, sebagai sarana publikasi dan promosi, dan sebagai media untuk mengembangkan dan mewujudkan semangat pelayanan, persaudaraan dan kerjasama lintas lembaga, terutama lembaga – lembaga yang bernaung dibawah Yayasan Mardi Wiyata. Maka yang diharapkan dari seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan adalah terciptanya SMAK Frateran Malang dan Yayasan Mardi Wiyata yang kreatif, peduli, komitmen, mampu berkerja sama dengan orang lain, komitment dengan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan, dan berani menghadapi setiap tantangan dengan iman dan keyakinan yang teguh, terutama dalam mewujudkan visi misi Gereja, visi misi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, visi misi Yayasan Mardi Wiyata dan visi misi SMAK Frateran Malang.

“Perjalanan pengabdian SMAK Frateran Malang dan Yayasan Mardi Wiyata dibidang pendidikan, sesungguhnya bukan hanya sekedar pengabdian oleh karena karya kita manusia, tetapi lebih karena karya Allah sendiri. Allah sendiri hadir dan menyapa setiap rentangan waktu yang telah terlewati . Allah yang memulai, Allah yang turut serta, dan Allah pula-lah yang akan mengakhiri semuanya pada waktunya. Maka dalam proses pengabdian itu, ada pengalaman – pengalaman indah yang menusuk rasa, ada pengalaman – pengalaan menarik yang membangkitkan gairah, dan ada pula pengalaman – pengalaman yang kurang mengenakan yang membuat kedua lembaga ini merasa ditantang dan dipaksa untuk menghadapinya. Terutama ketika keduanya dihadapakan dengan masa – masa sulit, ketika keduanya dihadapkan dengan pelbagai tantangan dan hambatan dalam mewujudkan visi misi Gereja, visi misi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, visi misi Yayasan Mardi Wiyata dan visi misi SMAK Frateran Malang”, kata Fr. M. Patricius, BHK., Kepala Sekolah SMAK Frateran Malang dan penanggung jawab seluruh kegiatan.

Lebih lanjut, Fr. Patricius juga mengatakan bahwa kedua lembaga ini sesungguhnya telah menorehkan tinta cinta, telah menebarkan sejuta harapan kepada sekian banyak umat manusia lewat pelayanan yang diberikan, khususnya pelayanan dibidang pendidikan dan pembinaan kawula muda, generasi penerus Gereja, bangsa, dan masyarakat. Karena itu, moment ulang tahun kedua lembaga yang dirayakan hendaknya dapat dipahami/hayati sebagai usia yang menandakan kematangan, menandakan pertumbuhan dan perkembangan positif di dunia pendidikan.  Kehadiran kedua lembaga di tengah komplektisitas persoalan bangsa diharapkan bisa menjadi tanda dan berkat bagi yang lain. Bisa menjadi garam dan terang dunia.

 

Peliput, Fr. M. Patricius, BHK

MELAYANI DENGAN SETULUS HATI

 

                Salah satu kegiatan dalam rangka perayaan perak SMAK Frateran Malang dan 55 tahun Yayasan Mardi Wiyata berkiprah di dunia pendidikan adalah dengan diadakannya kegiatan Siraman Rohani bagi para guru, pegawai dan karyawan/i Yayasan Mardi Wiyata sub perwakilan Malang, sub perwakilan Kediri dan sub perwakilan Surabaya, Jumaat, 23/08/2013. Bertempat di SMAK Frateran Malang, kegiatan ini menghadirkan nara sumber Rm. Dr. Deny Firmanto, Pr, Rektor Seminari Tinggi Diosesan Giovani Malang, Jawa Timur.

                Romo Deny dalam paparannya menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan katolik di zaman ini adalah melemahnya semangat pelayanan yang bersumber dari Yesus sang guru sejati, pemimpin dan pelayan cinta kasih. Maka kepada pendidik dan tenaga kependidikan, terutama yang berkarya di lembaga pendidikan katolik diharapkan untuk senantiasa berguru hidup pada Yesus, belajar dari spiritualitas kepemimpinan dan pelayananNya.

                “Kita hanya bisa melayani dengan sungguh – sungguh kalau kita memiliki semangat yang mengalir dari Dia yang adalah jalan, kebenaran dan kehidupan kita. Hanya melalui Dia kita bisa bergerak mewujudkan visi misi Gereja, visi misi Yayasan dan visi misi sekolah. Terutama bagi mereka yang secara langsung terjun di bidang pelayanan pendidikan, yaitu pendidik dan tenanga kependidikan. Kalau semangat ini tidak ada dan atau mulai memudar, maka kwalitas pelayanan kita diragukan, ketulusan kita dalam melayani patut dipertanyakan”, katanya.

                Sementara itu, Kepala Sekolah SMAK Frateran Malang dalam sambutan singkatnya mengatakan bahwa SMAK Frateran Malang dan Yayasan Mardi Wiyata hanya bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik apabila seluruh komponen kedua lembaga mampu bekerja sama secara maksimal, memiliki jiwa dan Roh yang sama dalam membangun dan meningkatkan pelayanan yang diberikan. Dan untuk mewujudkan pelayanan sejati, hal pertama yang harus dikedepankan adalah adanya suatu perubahan, dan perubahan itu meliputi banyak aspek; cara kita berpikir, cara kita bekerja, cara kita belajar, cara kita bersikap, dan cara kita bertindak. Kita mengadopsi cara – cara yang dilakukan oleh Yesus sang guru sejati.

“Untuk mewujudkan suatu perubahan, kita semua dituntut untuk bisa menjadi agen perubahan; agen perubahan bagi diri kita sendiri, bagi orang lain, dan teristimewa bagi kedua lembaga ini. Perubahan itu dapat diinternealisasikan melalui hal – hal kecil; cara kita berpikir, cara kita bekerja, cara kita belajar, cara kita bersikap dan cara kita bertindak. Kita mengadopsi cara – cara yang dilakukan oleh Yesus sang guru sejati. Kita berguru hidup pada Dia yang adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan. Hanya dengan cara demikian, kita dapat mewujudnyatakan visi misi Gereja, visi misi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, visi misi Yayasan Mardi Wiyata, visi misi sekolah, dan juga visi  misi pribadi kita masing – masing”, katanya.

                Peliput, Fr. M. Patricius, BHK

HIKING PANDERMAN

“Kalau hiking bersama jadi bisa merasakan perjuangan dan kerjasama sampai ke puncak yaa”

Tanggal 13-14 April 2013 lalu, Scout SMAK Frateran Malang mengadakan pendakian di Gunung Panderman. Perjalanan kami dimulai pukul 14.00 dari sekolah. Awalnya kita merasa ragu untuk melakukan perjalanan ini, karena untuk mendaki ke Gunung Panderman pasti membutuhkan waktu yang lama. Namun karena kebersamaan di antara senior dan junior pramuka, kami yakin untuk tetap melanjutkan perjalanan ini. Kami menempuh perjalanan dengan menggunakan truk tentara, walaupun tidak semua mendapatkan tempat duduk, namun keceriaan di dalam truk membuat kami tak merasa lelah. Sebelum berangkat, kami berdoa bersama terlebih dahulu dipimpim Pak Endik supaya dalam perjalanan kami selalu disertai Tuhan.

Perjalanan dimulai dengan keceriaan, kami saling bercanda tawa dengan kebersamaan kami, sampai tidak terasa kami sampai di perhentian terakhir sebelum mulai mendaki. Semua keperluan kami siapkan dengan baik agar kami dapat membuat perjalanan menjadi lengkap. Hawa yang dingin mulai menusuk tulang, namun kehangatan diantara kami membuat semua itu sirna.

Kurang lebih pukul 15.30, kami memulai pendakian kami. Jalanan mulai kami tempuh, rasa lelah mulai melanda karena kemiringan jalan. Perjalanan ini menjadi sebuah tantangan buat kami, sebagai ujian unruk perjalanan hidup kami. Walaupun lelah menghampiri kami, namun kami saling bergandengan tangan untuk bersama menuju puncak.

Pukul 17.00, kami sudah sampai di Pelataran Ombo Gunung Panderman. Di sana kami melepas lelah, dan beristirahat sejenak sambil menunggu rombongan kami yang belum sampai. Kesejukkan meliputi kami semua, membuat kami semakin bersemangat untuk tetap maju. Setelah seua anggota kami lengkap, kami semakin bersemangat untuk tetap maju. Setelah semua anggota kami lengkap, kami melanjutkan kembali perjalanan kami. Namun, tiba-tiba awan mendung turun di atas kami, hujan rintik mulai turun. Sesegera mungkin kami mengantisipasi dengan mengenakan jas hujan yang telah kami bawa, untung kami bawa jas hujan. Setelah kami semua siap, kami kembali melanjutkan langkah kami. Perjalanan mulai terasa berat karena jalan setapak yang kami lalui mulai licin dan mulai menanjak. Di tengah perjalanan, hujan semakin deras mengguyur kami semua, keraguan mulai melanda. Namun semangat kami tetap membuat kami yakin bahwa kami bisa sampai di puncak.

Medan semakin berat, jalanan sangat licin dan berair, dingin melanda. Lengkap sudah sambutan dari ala mini. Walaupun demikian, kami yakin ini semua diberi agar kami nantinya menjadi pribadi yang lebih tegar menghadapi tantangan hidup, tapi kita terus melangkah. Dalam perjalanan ini dibutuhkan komunikasi yang baik agar rombongan kami tidak terputus, namun seringkali rombongan kami terputus. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di Watu Gede karena hujan semakin deras dan stamina kami mulai menipis. Kami berhenti sembari menunggu teman-teman kami yang masih tertinggal di belakang. Setelah semua lengkap kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Watu Gede, karena junior kami mulai kehabisan tenaga, selain itu kami juga memikirkan resiko jika kami tetap melanjutkan perjalanan ini. Jalanan semakin licin dan medan untuk selanjutnya juga semakin berat.

Tenda telah berdiri, kami membagi tugas. Ada yang memasak air untuk minum kami, ada yang mencari kayu bakar untuk menghangatkan kami semua. Setelah semua terselesaikan, kami semua tidur.

Pagi-pagi benar, kami terbangun oleh tiupan peluit Pak Endik yang mengharuskan kami untuk segera bangun. Kami diminta untuk bersiap-siap karena kami akan berangkat untuk melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Hawa sejuk dan dingin masih sangat terasa, karena sang surya belum bangun dari tidurnya^^. Kami memulai perjalanan kami dengan setengah mengantuk. Setengah perjalanan kami telah terlewari dan kami memutuskan untuk berhenti sejenak. Ketika kami duduk, kami terpesona dengan cahaya matahari yang mulai bersinar. Tidak lupa kami mengabadikannya, kami berfoto terlebih Dahulu^^. Setelah rasa lelah kami hilang, kami melanjutkan setengah perjalanan kami. Dari atas kami bisa melihat karya Tuhan yang begitu luar biasa untuk kita. Syukur kami panjatkan atas semua yang diberi-Nya untuk kita. Sesampainya di Puncak, para junior yang ikut serta ke Puncak mendapatkan hadiah dari senior pramuka. Mereka dilantik menjadi penegak Bantara di puncak bersama Pak Endik. Alangkah bahagianya mereka mendapatkan jabatan baru. Meninggalkan kesan tersendiri bagi Bantara baru yang telah dilantik, karena pelantikan mereka tidak biasa, pelantikan mereka di Puncak Panderman. Jabatan yang layak diterima atas perjuangan mereka.

 

Setelah puas berada di Puncak, kami turun ke perkemahan kami, Perjalanan turun ternyata lebih sulit dibandingkan ketika mendaki, kami harus menjaga keseimbangan kami agar tidak terpeleset dan tidak jatuh. Wow, perjalanan yang berat. Sesampainya di perkemahan, kami segera berkemas untuk melanjutkan turun lagi. Kami saling bahu-membahu untuk turun dengan membawa beban yang cukup berat, namun kami yakin bahwa kami bisa sampai di “bawah”

Yaa, itu sekilas kisah perjalanan kami menuju Puncak Panderman.

UJIAN NASIONAL 2013 SMAK FRATERAN

Pada tanggal 15-18 April 2013 kemarin, murid kelas 12 SMAK Frateran baru saja menyelesaikan ujian nasional (UNAS) 2013. Ujian dilaksanakan selama empat hari dengan rincian jadwal: bahasa indonesia (senin); bahasa inggris, fisika (untuk IPA), ekonomi akutansi (IPS) (selasa); matematika (rabu); dan biologi, kimia (IPA), sosiologi, geografi (IPS) (kamis). Jumlah siswa SMAK Frateran yang mengikuti ujian nasional tahun ini berjumlah 157 siswa dengan rincian 55 siswa jurusan IPA dan 102 siswa jurusan IPS. Para peserta diwajibkan hadir satu jam sebelum pelaksanaan ujian.

Pukul 6 pagi, di hari pertama, anak-anak kelas 12 sudah banyak yang tampak berada di area ruang ujian yang dipersiapkan. Wajah antusias bercampur grogi nampak telihat di wajah para peserta. Para guru juga tidak kalah kawatir bercampur cemas, berharap siswanya dapat mengerjakan soal ujian dengan baik. Di halaman depan, tampak Fr. Christ, Ibu Nanik, dan Ibu Nugrah yang datang pagi-pagi sekali untuk menyambut dan memberikan sapa serta senyum kepada para peserta agar lebih semangat saat mengikuti ujian. Fr. Patrice, selaku ketua pelaksana UNAS 2013 SMAK frateran,  setiap hari mengontrol dan mengkoordinasi jalannya unas demi terjaganya kelancaran dan kejujuran pelaksanaan kegiatan. Tak lupa para panitia lokal sekolah lainnya yang bertugas di bagiannya masing-masing, ada yang dibagian konsumsi, tata usaha, sekretariatan, kesiswaan (tata tertib), kebersihan, dll.  Guru pengawas yang ditugaskan di SMAK Frateran berasal dari SMAN 3 Malang, SMAK Santa Maria, SMAN 5 Malang, Keamanan dari Polres Malang, dan Tim Independen dari Universitas Brawijaya.

Pada hari pertama pelaksanaan terdapat sedikit kekurangan teknis, namun menurut Fr. Patrice, hal tersebut tidak mengganggu lancarnya jalannya unas hari pertama. Di hari ketiga, ada kejadian yang cukup menyita perhatian, dimana ada lembar jawaban ujian yang tidak sengaja tercoblos, kejadian tersebut langsung ditangani guru pengawas ruang, koordinator pengawas, ketua pelaksana, dan beberapa guru panitia lokal. Selama ujian berlangsung, siswa kelas 12 mampu menunjukkan sikap yang baik kepada bapak/ibu pengawas, sehingga, para bapak ibu pengawas merasa senang dan terbantu dalam menjalankan tugas di SMAK Frateran kita. Meskipun masih saja ada beberapa siswa yang datangnya mepet dengan jam masuk, serta beberapa siswa yang tidak memakai name tag, sehingga harus berurusan dengan kesiswaan. Tetapi secara keseluruhan, pelaksaan kegiatan unas tahun ini di sekolah kita dapat berjalan dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti.

Di sela-sela ujian, beberapa siswa sempat menuturkan kesannya mengikuti unas 2013 kepada  beberapa guru. Menurut Jessica Anjani (IPA2), Kiki (IPS2), dan Dwinda (IPS1), pada tahun ini ada enam mata pelajaran yang diujikan dalam unas. Soal ujian nasional tahun ini lebih sulit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya termasuk jika dibandingkan dengan soal try out yang pernah diujikan. Hal tersebut membuat mereka menjadi perlu belajar lebih keras untuk mendapatkan nilai yang baik. Jadi, untuk adik-adik kelas 10 dan adik-adik kelas 11 yang tahun depan akan menghadapi unas, diharapkan dapat belajar dengan lebih giat dan antusias di tiap semesternya, sehingga dapat lebih siap menghadapi unas. Ucapan terima kasih disampaikan kepada kakak-kakak kita kelas 12, guru Pengawas unas, Ketua pelaksana ujian nasional sekolah, Para panitia lokal, Bapak-bapak pembantu pelaksana dan semua orang yang telah membantu lancarnya pelaksanaan ujian di tahun ini. Semoga kita dapat bekerja sama dan berjuang dengan lebih baik lagi di tahun mendatang.

Terima kasih..dan…

JAYA SMAK FATERAN MALANG!

Sekapur Sirih

In Fraternitatis, Discimus Docemus Et Amamus adalah semboyan SMAK Frateran Malang yang bermakna ”dalam persaudaraan, kita belajar, mengajar dan mencintai” adalah sebuah diktum yang benar untuk direnungkan. Moto ini harus menjiwai setiap civitas SMAK Frateran serta alumni dalam kiprah menggapai masa depan. Dari sinilah masa depan harus dimulai, dan dari sini pula peserta didik menatap dan melemparkan sauh harapan ke depan. Berhasil atau tidaknya mewujudkan mimpi-mimpi itu tergantung bagaimana peserta didik bisa me-manage diri, me-manage waktu dengan baik, untuk menangkap peluang atau kesempatan yang terbentang luas di depan peserta didik. Peluang/kesempatan yang baik itu hanya sekali datang setelah itu dia pergi, menghilang meninggalkan peserta didik. Jika peserta didik tidak selalu siap menangkap peluang yang demikian itu, maka peserta didik akan kehilangan kesempatan atau peluang yang berarti GAGAL. Untuk menangkap sebuah peluang atau kesempatan dibutuhkan kompetensi, life skill, kepribadian yang tangguh bak seorang pejuang, sebab peserta didik harus siap untuk berkompetisi atau bertarung dengan yang lain. Jika peserta didik tidak memiliki strategi dan perlengkapan “senjata” pengetahuan, maka bersiap-siaplah untuk kalah.

Oleh karena itu, sebagai seorang “laskar” pelajar peserta didik harus mempersiapkan dirimu dengan baik, mulai dari saat ini dan sekarang ini, jangan sampai terlambat. Sebuah adagium jangan menunda sampai besok apa yang bisa peserta didik kerjakan hari ini. Perlu disadari pula bahwa keberhasilan atau kesuksesan itu 1 % nya adalah hasil inspirasi (ide), tetapi 99 % nya adalah hasil perspirasi (keringat) peserta didik sendiri, demikian yang diucapkan oleh Thomas Alva Edison. Dalam konteks peserta didik sebagai seorang pencari mutiara pengetahuan yang dituntut adalah ketekunan (assiduity), semangat juang (fighting spirit) dalam menemukan harta yang terpendam itu. Tanpa kerja keras niscaya pencarian harta terpendam “mutiara pengetahuan” itu dapat terwujud. Di sisi lain keberhasilan atau kesuksesan itu tidak mungkin tercapai tanpa bantuan sesama. Dalam hal ini sesama yang dimaksud adalah para guru, pegawai, orangtua, sahabat seperjuanganmu. Mereka-lah yang memiliki andil terbesar yang membuatmu berhasil sehingga patut dikenang sepanjang masa. Dalam persaudaraan itulah mereka telah menanamkan serta memberikan yang terbaik bagimu berupa bekal nilai kehidupan, pengetahuan, ketrampilan, dan peserta didikpun telah menerimanya melalui interaksi belajar mengajar, kegiatan pengembangan diri, berbagai pengalaman yang di alami selama belajar di SMAK Frateran. Mereka tidak hanya membentuk kepala (otak) peserta didik, tetapi juga membentuk hati (afeksi), dan kepribadianmu (personality), sehingga peserta didik tumbuh dan berkembang sebagai sosok pribadi yang utuh.

Pengalaman apapun yang peserta didik terima selama menimba ilmu pengetahuan di SMAK Frateran Malang, semuanya karena CINTA. Cinta itulah yang menjadi dasar dalam kegiatan proses belajar mengajar di SMAK Frateran, sesuai dengan moto lembaga. Cinta itu juga yang akan mengantarkan peserta didik berdiri tegar sampai hari ini,  karena kekuatan dan kehebatan saja,  tak mampu berdiri tegak, semua karena cinta. Cinta para guru kepada peserta didik tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali. Namun, peserta didik yang telah menerima ”Cinta”, harus juga memberi/membagi cinta yang peserta didik punyai kepada sesama. Dengan demikian Cinta melahirkan lagi sebuah Cinta ”Amor Gignit Amorem”.

                                                            Kepala Sekolah

                                                                     Fr.M.Yohanes Berchmans, BHK, M. Pd